Warung Pintar, Kios Zaman Now yang Pakai Software PoS dan Akuntansi

warung pintar

Di era yang serba online seperti sekarang, masih banyak masyarakat yang memanfaatkan fasilitas offline seperti warung untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Jangan heran kalau di kota besar seperti Jakarta, kita masih akan melihat banyak warung yang tersebar di pinggir jalan.

Setelah sukses dengan mendirikan coworking space bernama EV Hive di Jakarta 2015 silam, investor startup East Ventures kembali hadir dengan proyek anyar untuk merakyatkan teknologi. Proyek yang tercetus dari pengamatan perilaku masyarakat lokal ini diberi nama Warung Pintar.

Sesuai namanya, proyek ini memadukan kios kecil/tradisional dan pengelolaan yang berbasis teknologi dengan mengedepankan tiga pilar yaitu Internet of Things (IoT), big data analytics dan blockchain.

Masing-masing memiliki tujuan sendiri seperti IoT yang digunakan untuk meningkatkan akurasi pemasukan data ritel. Sementara big data analytics bertujuan untuk memahami perilaku para pelanggan, serta blockchain yang digunakan untuk menciptakan transparansi dan kepercayaan kepada pemilik warung.

“Kenyataan bahwa teknologi seharusnya dapat diakses oleh siapa saja, maka Warung menjadi wadah yang tepat bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk mengambil peran dalam ekonomi digital”, ujar CEO Warung Pintar, Agung Bezharie dalam keterangan pers yang diterima, Rabu (24/1/2018).

Dengan implementasi teknologi di Warung Pintar, pemilik warung dan pembeli bisa memanfaatkan aplikasi hasil investasi East Ventures. Misalnya, menggunakan sistem MokaPOS pada kasir warung atau melakukan pencatatan keuangan dan akuntansi menggunakan Jurnal.

“Di Jakarta sendiri, terdapat lebih dari 50.000 warung pada tahun 2014. Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, satu warung rata-rata menghasilkan pendapatan sekitar Rp1,5 juta per hari,” ujar Harya Putra, mantan Expansion Head dari co-working space EV Hive.

East Venture menyebut jika masih ada kelompok masyarakat di Indonesia yang belum dapat menikmati paltform digital karena kurangnya pengetahuan terhadap dunia digital. Sebab itulah, mereka mengambil pendekatan yang berbeda untuk melayani segmen tersebut.

Mereka tidak hanya menyediakan platform digital saja tetapi juga membangun platform fisik untuk para pemilik warung mulai dari pencarian lahan, pendanaan, promosi, hingga pemasaran.

Sumber : Kompas & Techinasia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *